GIANYAR | Sarinbiu.com – Politik kerap dianggap sebagai sesuatu yang jauh, rumit, bahkan menakutkan bagi sebagian anak muda. Padahal, hampir seluruh sisi kehidupan generasi muda hari ini tidak lepas dari keputusan politik, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga informasi yang mereka konsumsi setiap hari melalui media sosial.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Putu Diah Pradnya Maharani, BSc. (Hons) atau Gek Diah, Anggota DPRD Provinsi Bali Komisi IV Dapil Gianyar, kembali membuka ruang dialog bagi generasi muda melalui “Ruang DM Session 2”, dengan jargon “Dari Apatis Menjadi Kritis”.
Kegiatan yang berlangsung di Ubud Mas Cafe & Bistro, Dekayun Restoran Ubud Mas (Mas Ubud), Gianyar, Bali, tersebut mengangkat tema “Politik Identitas dan Komunikasi Politik”. Forum ini dirancang bukan sekadar menjadi diskusi satu arah, tetapi ruang partisipatif bagi anak muda untuk menyampaikan pandangan, bertanya, mengkritisi persoalan, sekaligus belajar memahami politik secara lebih sehat dan rasional.
Tiga sekolah secara khusus dilibatkan dalam kegiatan tersebut, yakni SMA Negeri 1 Gianyar, SMA Negeri 1 Ubud, dan SMA Negeri 1 Blahbatuh. Selain pelajar, kegiatan juga melibatkan sejumlah komunitas yang ada di Gianyar serta peserta dari berbagai kalangan.
Gek Diah mengatakan, forum tersebut sengaja dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter anak muda. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang dan gaya komunikasi yang berbeda agar mereka merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat.
“Diskusi dengan tema ‘Dari Apatis Menjadi Kritis’ ini ingin mendapatkan aspirasi dari anak-anak muda. Anak-anak muda itu unik sekali. Mereka harus ada gaya-gaya baru untuk membuat mereka bersuara dan lebih berani, sekaligus bisa mengedukasi mereka tentang pendidikan politik,” ujar Gek Diah.
Ia menilai, pendidikan politik bagi generasi muda saat ini semakin penting. Terlebih, derasnya arus informasi di media sosial membuat anak muda berhadapan dengan beragam informasi, termasuk informasi yang belum tentu benar.
Menurutnya, persoalan bukan semata-mata apakah anak muda tertarik atau tidak terhadap politik. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mereka memiliki kemampuan untuk memahami, menyaring dan menganalisis informasi politik yang mereka terima.
“Anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak terlalu tertarik untuk belajar politik. Padahal, kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh keputusan politik. Apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka lihat di media sosial juga sangat berkaitan dengan politik,” katanya.
Karena itu, Gek Diah memandang pendidikan politik sebagai sebuah fondasi yang harus diberikan sejak dini.
“Bahaya sekali kalau mereka tidak punya bekal untuk melindungi diri mereka sendiri. Maka dari itu, fondasi pendidikan politik ini sangat perlu dan sangat krusial. Kita buat forum ini semenyenangkan mungkin, tetapi tetap kritis,” tegasnya.
Bukan Apatis, Anak Muda Hanya Butuh Ruang
Menariknya, jalannya diskusi justru menunjukkan bahwa anggapan generasi muda tidak peduli terhadap politik tidak sepenuhnya benar.
Gek Diah mengaku terkejut melihat antusiasme peserta selama forum berlangsung. Berbagai pertanyaan dan pandangan yang muncul menunjukkan bahwa anak muda sebenarnya memiliki kepedulian terhadap persoalan politik dan kehidupan sosial di sekitarnya.
Hanya saja, mereka membutuhkan ruang yang aman, terbuka dan tidak menggurui untuk menyampaikan pemikirannya.
“Kesimpulannya, ternyata banyak dari mereka sepeduli itu dengan politik. Tetapi karena banyak sekali berita-berita yang mungkin hoaks, mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak,” ungkapnya.
Melalui diskusi tersebut, peserta kemudian diajak untuk tidak menerima informasi begitu saja. Mereka didorong membangun kebiasaan melakukan verifikasi, melihat sumber informasi, membandingkan berbagai sudut pandang, serta menganalisis sebuah isu sebelum mengambil kesimpulan.
Dengan bekal tersebut, Gek Diah berharap para pelajar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi generasi yang kritis dan bertanggung jawab dalam menyikapi perkembangan politik.
“Mereka akhirnya mempunyai senjata untuk bisa membedakan mana berita yang benar, mana yang tidak, mana yang perlu dianalisis lebih lanjut dan dikaji lebih lanjut. Mereka punya bekal,” ujarnya.
Sinkron dengan Tugas Komisi IV DPRD Bali
Bagi Gek Diah, kegiatan Ruang DM Session 2 juga memiliki arti penting karena bersinggungan langsung dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya sebagai anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bali, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan dan generasi muda.
Ia menyebut forum tersebut tidak hanya menjadi wadah edukasi, tetapi juga menjadi kesempatan baginya untuk mendengar secara langsung aspirasi anak muda.
“Acara hari ini luar biasa. Saya sendiri di Komisi IV membidangi pendidikan, kesehatan dan anak muda. Jadi ini betul-betul sinkron,” katanya.
Dari dialog tersebut, Gek Diah mengaku memperoleh banyak masukan yang dapat dibawa ke lembaga legislatif untuk kemudian disampaikan dan ditindaklanjuti bersama pemerintah daerah maupun perangkat dinas terkait.
“Aspirasi yang saya dapatkan banyak dan bisa saya bawa ke gedung DPR untuk bisa disampaikan kepada dinas terkait juga,” ujarnya.
Hal itu sekaligus mempertegas bahwa Ruang DM tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan seremonial. Forum tersebut diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara generasi muda dengan wakil rakyat.
Episode Kedua, Berharap Terus Berlanjut
Ruang DM Session 2 bukan merupakan kegiatan perdana. Sebelumnya, Gek Diah telah menggelar sesi pertama sekitar dua bulan lalu dengan mengangkat isu perempuan.
Pada sesi kedua ini, tema yang diangkat bergeser pada pendidikan politik, khususnya politik identitas dan komunikasi politik.
“Ini juga episode yang kedua. Yang pertama sudah kami lakukan dua bulan lalu, mengangkat tema soal perempuan. Dan hari ini kita mengangkat tema soal pendidikan politik,” jelasnya.
Melihat respons positif dari peserta, Gek Diah berharap Ruang DM dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak anak muda di berbagai wilayah.
Ia menyadari keberlanjutan program tersebut membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk komunitas, sekolah, masyarakat dan generasi muda itu sendiri.
“Dengan bantuan dari teman-teman dan doa dari teman-teman semuanya, kami harap ini bisa berlanjut,” katanya.
Gek Diah: Jangan Takut Belajar Politik
Di hadapan para pelajar dan generasi muda, Gek Diah menyampaikan satu pesan sederhana namun penting: jangan takut belajar politik.
Ia memahami bahwa kata “politik” terkadang masih terdengar berat bagi sebagian anak muda. Namun, menurutnya, politik tidak seharusnya dijauhi karena politik merupakan bagian dari kehidupan sebagai warga negara.
“Saya harap teman-teman generasi muda semuanya agar terus belajar. Jangan takut untuk belajar politik. Mungkin kedengarannya serem, tetapi itu hal yang wajib kita punya sebagai bekal dan fondasi untuk kita ke depannya sebagai warga negara,” tuturnya.
Ia juga berharap ilmu dan perspektif yang diperoleh dari Ruang DM tidak berhenti di dalam forum. Para peserta diharapkan mampu membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan sekolah, keluarga, komunitas dan ruang sosial lainnya.
“Semoga teman-teman bisa membawa ilmu ini ke tempat-tempat yang lebih luas lainnya,” pungkas Gek Diah.
Melalui Ruang DM Session 2, pesan yang ingin dibangun pun menjadi jelas: generasi muda tidak harus langsung menjadi politisi untuk memahami politik. Mereka cukup memulainya dengan berani bertanya, berani menyampaikan pendapat, mampu memeriksa informasi dan tidak mudah percaya pada setiap informasi yang beredar.
Sebab, dari ruang-ruang diskusi kecil seperti inilah budaya demokrasi yang sehat dapat tumbuh—dari apatis menjadi kritis, dari sekadar melihat menjadi memahami, dan dari hanya bersuara menjadi mampu menyampaikan aspirasi dengan bijak. (Tim Newsyess)