GIANYAR | Sarinbiu.com – Pelaksanaan Pemilihan Perbekel (Pilkel) Serentak Kabupaten Gianyar Tahun 2026 mendapat perhatian langsung dari jajaran Pemerintah Kabupaten Gianyar. Pada Minggu, 20 September 2026, Bupati Gianyar I Made Mahayastra, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar I Gusti Bagus Adi Widya Utama, S.IP., M.Si., bersama sejumlah pejabat terkait, turun langsung memantau jalannya proses pemungutan suara di sejumlah titik.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian dalam pemantauan tersebut adalah Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar. Kehadiran jajaran pimpinan Pemkab Gianyar di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh tahapan pemungutan suara Pilkel berjalan aman, tertib, lancar dan sesuai ketentuan.
Pemantauan lapangan tersebut juga menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap proses demokrasi yang berlangsung langsung di tingkat desa. Bupati bersama jajaran tidak hanya melihat situasi di lokasi pemungutan suara, tetapi juga memastikan kondisi masyarakat tetap kondusif serta seluruh proses berjalan dengan baik.
Pilkel Serentak 2026 Kabupaten Gianyar dilaksanakan pada 20 September 2026 dan diikuti oleh 61 calon perbekel dari 26 desa. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) telah melakukan berbagai persiapan, termasuk koordinasi dengan penyelenggara, pengamanan, serta pengecekan sarana dan prasarana di desa-desa yang melaksanakan pemilihan.
Momentum pemungutan suara ini sekaligus menjadi puncak dari rangkaian tahapan Pilkel yang sebelumnya telah diwarnai dengan Deklarasi Damai Calon Perbekel di Balai Budaya Gianyar pada 31 Agustus 2026.
Dalam deklarasi tersebut, sebanyak 61 calon perbekel dari 26 desa menyatakan komitmen untuk mengikuti seluruh tahapan Pilkel secara damai, tertib, jujur dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Semangat yang diusung adalah “Abhipraya Nayaka Dharma Rakshaka Desa”, yang mengandung makna tekad untuk mencari pemimpin yang mampu menjaga kebenaran, melindungi serta memajukan desa.
Bupati Gianyar I Made Mahayastra sebelumnya menegaskan bahwa Pilkel merupakan bagian penting dari proses demokrasi di tingkat paling bawah. Menurutnya, desa memiliki posisi strategis karena kemajuan desa akan memberikan dampak langsung terhadap kemajuan Kabupaten Gianyar secara keseluruhan.
Ia juga mengingatkan agar seluruh calon dan pendukung menjaga suasana tetap kondusif, mematuhi regulasi serta tidak melakukan kampanye negatif. Perbedaan pilihan, menurut pesan Bupati, hendaknya tidak sampai mengganggu hubungan sosial dan kenyamanan masyarakat.
“Mari kita jaga bersama agar pesta demokrasi di desa berjalan dengan baik,” demikian pesan Mahayastra dalam tahapan sebelumnya.
Pada pelaksanaan pemungutan suara hari ini, perhatian pemerintah daerah kembali diarahkan pada terciptanya proses demokrasi yang aman dan tertib. Kehadiran Bupati bersama Sekda dan jajaran pejabat terkait di sejumlah lokasi menjadi bagian dari pemantauan langsung terhadap pelaksanaan Pilkel di lapangan.
Untuk tahun 2026, Pilkel Serentak Gianyar tersebar di tujuh kecamatan, yakni Sukawati sebanyak lima desa, Blahbatuh empat desa, Gianyar empat desa, Ubud empat desa, Tampaksiring tiga desa, Payangan tiga desa dan Tegallalang tiga desa. Total terdapat 26 desa dengan 61 calon peserta Pilkel.
Sementara itu, di sejumlah desa terdapat pula calon tunggal yang berhadapan dengan pilihan kotak kosong. DPMD Gianyar sebelumnya mencatat lima desa dengan calon tunggal, yakni Keramas, Belega, Kemenuh, Sebatu dan Buahan Kaja.
Pemantauan langsung pada hari pencoblosan menjadi bagian penting untuk melihat pelaksanaan demokrasi desa secara nyata. Dari desa, suara masyarakat menentukan sosok yang nantinya dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai perbekel dan memimpin pembangunan di wilayahnya.
Dengan berlangsungnya pemungutan suara secara aman, tertib dan kondusif, masyarakat Gianyar diharapkan dapat menerima apa pun hasil Pilkel dengan tetap menjaga persaudaraan, keharmonisan serta persatuan di masing-masing desa.
Sebab, setelah proses pencoblosan berakhir, seluruh calon dan masyarakat kembali menjadi satu keluarga besar desa. Demokrasi bukan sekadar tentang menentukan pilihan, tetapi juga tentang menjaga persaudaraan setelah pilihan ditetapkan. (Tim)