BULELENG | Sarinbiu.com — Ada perjalanan yang tidak sekadar mengantarkan langkah menuju sebuah tempat, tetapi membawa hati pulang kepada ketenangan. Di antara udara pegunungan dan keheningan alam Tajun, Buleleng, Made Dwiantara, S.AP., M.AP., Owner Sarinbiu, bersama keluarga melaksanakan persembahyangan atau tangkil ke Pura Puncak Sinunggal, Sabtu (26/9/2026).
Perjalanan spiritual tersebut menjadi momentum bagi Made Dwiantara dan keluarga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus mensyukuri perjalanan kehidupan yang telah dilalui.
Pura Puncak Sinunggal bukan sekadar tujuan perjalanan. Bagi umat Hindu, tangkil menjadi bagian dari laku bhakti—sebuah perjalanan lahir dan batin untuk menundukkan ego, menyucikan pikiran, serta menguatkan rasa syukur.
Dengan suasana alam yang asri dan nuansa spiritual yang kuat, perjalanan bersama keluarga terasa semakin bermakna. Langkah demi langkah menuju tempat suci menjadi pengingat bahwa kehidupan pun sesungguhnya adalah sebuah perjalanan: terkadang menanjak, terkadang melelahkan, tetapi selalu memiliki tujuan untuk menemukan kedamaian.
Made Dwiantara menyampaikan, perjalanan tangkil bersama keluarga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengingat kembali pentingnya rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
“Yang paling utama adalah bersyukur. Ketika kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, diberikan kesehatan dan kesempatan untuk datang ke tempat suci, itu adalah anugerah yang patut kita syukuri,” ungkapnya.
Menurutnya, kehidupan tidak hanya tentang mengejar kesibukan dan pencapaian duniawi. Ada saatnya manusia berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan memberikan ruang bagi hati untuk kembali mengingat kebesaran Tuhan.
“Semoga perjalanan ini membawa kedamaian bagi keluarga, diberikan kesehatan, keselamatan, serta kekuatan untuk menjalani setiap proses kehidupan. Apa pun yang kita kerjakan, semoga selalu dilandasi niat yang baik dan memberikan manfaat bagi sesama,” pesannya.
Ia juga berharap nilai-nilai spiritual tidak hanya berhenti dalam pelaksanaan persembahyangan, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menjaga keharmonisan keluarga, serta selalu berbuat baik kepada lingkungan dan sesama.
Bagi Made Dwiantara, perjalanan menuju Pura Puncak Sinunggal menjadi sebuah pengingat sederhana: semakin tinggi langkah manusia mendaki, semakin ia diajak untuk menundukkan hati.
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi tentang seberapa banyak rasa syukur yang tumbuh di sepanjang perjalanan.
Di Pura Puncak Sinunggal, bersama keluarga, Made Dwiantara menutup perjalanan hari itu dengan doa dan harapan. Semoga setiap langkah ke depan senantiasa mendapat tuntunan, dijauhkan dari segala hal yang tidak baik, dan diberikan jalan menuju kehidupan yang penuh kedamaian.
Karena ketika keluarga masih bisa berjalan bersama menuju tempat suci, sesungguhnya di sanalah salah satu bentuk kebahagiaan telah ditemukan. (Tim)