GIANYAR | Sarinbiu.com – Ada orang yang berbagi karena memiliki kelebihan. Namun, ada pula yang menjadikan berbagi sebagai bagian dari cara hidup dan bentuk pengabdian kepada sesama.
Sosok itu melekat pada diri I Made Dwiantara, S.AP., M.AP., calon Perbekel Desa Blahbatuh. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan aktivitas pengabdian kepada masyarakat, Dwiantara dikenal memiliki perhatian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Bagi pria yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral di Surabaya tersebut, berbagi tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam bentuk materi. Berbagi, menurutnya, bisa dilakukan melalui ilmu, tenaga, waktu, pemikiran, perhatian, bahkan sekadar hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Nilai itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan Dwiantara memberanikan diri maju dalam kontestasi Pemilihan Perbekel Desa Blahbatuh.
Ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon Perbekel Desa Blahbatuh pada Jumat, 17 Juli 2026. Keputusan tersebut, kata Dwiantara, tidak semata-mata didorong ambisi untuk menduduki jabatan, tetapi lebih pada keinginan untuk memperluas ruang pengabdian.
“Sejak awal saya selalu percaya bahwa pemimpin harus hadir untuk melayani dan memberi manfaat. Saya ingin berbagi tenaga, pikiran, dan ilmu yang saya miliki demi kemajuan Blahbatuh,” ujar Dwiantara.
Berbagi Tidak Harus Menunggu Punya Banyak
Bagi Dwiantara, semangat berbagi tidak mengenal batas profesi maupun usia. Setiap orang, menurutnya, memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk lingkungan sekitarnya.
Sebagai akademisi, ia melihat ilmu pengetahuan bukan hanya sesuatu yang berhenti di ruang kelas, kampus, atau penelitian. Ilmu harus turun ke tengah masyarakat dan memberikan dampak nyata.
Karena itu, selama menjalani aktivitas akademik, Dwiantara berupaya terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi masyarakat, termasuk isu lingkungan hidup.
“Ilmu yang kita miliki jangan hanya berhenti sebagai teori atau penelitian. Kalau bisa, ilmu itu harus memberikan manfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Pandangan tersebut pula yang ingin dibawanya dalam kehidupan pemerintahan desa.
Jika mendapat kepercayaan masyarakat Blahbatuh, Dwiantara ingin membangun pemerintahan yang tidak berjarak dengan masyarakat. Pemerintah desa, menurutnya, harus hadir bukan hanya ketika ada persoalan, tetapi juga mampu mendampingi masyarakat sejak awal agar berbagai persoalan dapat dicegah dan diselesaikan secara bersama-sama.
Sampah, Lingkungan dan Semangat Gotong Royong
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Dwiantara adalah pengelolaan sampah.
Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat aturan atau menambah fasilitas. Perubahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat melalui edukasi yang dilakukan secara konsisten.
Ia bahkan melihat potensi besar dunia pendidikan untuk ikut mengambil bagian.
Dwiantara menggagas sinergi pemerintah desa dengan mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk membantu memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
“Mahasiswa memiliki ilmu dan semangat pengabdian. Jika disinergikan dengan pemerintah desa dan masyarakat, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat besar bagi desa,” ujarnya.
Menurutnya, desa tidak harus bekerja sendiri. Banyak sumber daya di luar pemerintahan desa yang dapat diajak berkolaborasi, mulai dari perguruan tinggi, komunitas, generasi muda, tokoh masyarakat hingga pelaku usaha.
Semangat kolaborasi tersebut diyakini akan membuat program pembangunan menjadi lebih kuat sekaligus menumbuhkan rasa memiliki di tengah masyarakat.
Menghargai Mereka yang Selama Ini Berjuang untuk Lingkungan
Menariknya, perhatian Dwiantara terhadap lingkungan tidak hanya berbicara mengenai kebijakan dan program. Ia juga menyoroti orang-orang yang selama ini bekerja di lapangan menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, para pejuang lingkungan layak mendapatkan perhatian dan penghargaan.
“Sudah sepatutnya mereka mendapatkan perhatian dan apresiasi. Budaya saling menghargai merupakan bagian dari semangat berbagi yang harus dibangun bersama,” katanya.
Baginya, memberikan apresiasi bukan sekadar persoalan penghargaan secara simbolis. Lebih jauh, hal tersebut merupakan bentuk pengakuan bahwa menjaga lingkungan merupakan pekerjaan bersama.
Ketika masyarakat merasa dihargai, Dwiantara meyakini semangat gotong royong akan semakin tumbuh.
Membangun Desa dengan Sinergi Adat dan Dinas
Dalam pandangannya mengenai pembangunan Blahbatuh, Dwiantara juga menempatkan sinergi antara Desa Dinas dan Desa Adat sebagai sesuatu yang penting.
Ia meyakini kedua unsur tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pembangunan desa. Pemerintahan dinas memiliki ruang dalam pelayanan administrasi dan pembangunan, sementara Desa Adat memiliki kekuatan sosial, budaya, serta nilai-nilai yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, menurut Dwiantara, keduanya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Pembangunan desa harus dirancang dengan semangat kebersamaan sehingga program yang dilahirkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Pembangunan bukan hanya tentang membangun infrastruktur. Yang lebih penting adalah membangun manusianya, membangun kepedulian, kebersamaan dan rasa saling membantu,” tuturnya.
Bukan Sekadar Ingin Memimpin, tetapi Ingin Hadir
Di balik langkah politiknya menuju Pilkel Blahbatuh, Dwiantara ingin membawa satu pesan sederhana: bahwa jabatan seharusnya menjadi ruang untuk mengabdi.
Ia menyadari bahwa menjadi Perbekel bukanlah pekerjaan ringan. Perbekel dituntut mampu mendengar berbagai suara masyarakat, memahami persoalan yang berbeda-beda, sekaligus mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama.
Karena itu, ia ingin membangun karakter pemerintahan yang terbuka dan komunikatif.
Baginya, seorang pemimpin tidak boleh hanya muncul ketika membutuhkan dukungan. Pemimpin justru harus semakin dekat dengan masyarakat ketika menghadapi persoalan.
“Pemerintahan harus terbuka, mau mendengar, dan selalu hadir untuk masyarakat,” tegasnya.
Blahbatuh dan Harapan tentang Masa Depan
Menjelang Pemilihan Perbekel Desa Blahbatuh, Dwiantara juga mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan.
Ia berharap kontestasi demokrasi tingkat desa tidak menjadi alasan masyarakat terpecah, melainkan menjadi momentum untuk memilih pemimpin terbaik sekaligus memperkuat kebersamaan.
Sebab, baginya, setelah pesta demokrasi selesai, seluruh masyarakat akan kembali menjadi satu keluarga besar Desa Blahbatuh.
Di situlah semangat berbagi yang selama ini ia pegang menemukan maknanya.
Berbagi tenaga. Berbagi ilmu. Berbagi kesempatan. Berbagi perhatian. Dan yang paling penting, berbagi kepedulian untuk membangun desa.
“Saya ingin menghadirkan pemerintahan yang terbuka, mau mendengar, dan selalu hadir untuk masyarakat. Ketika kita terbiasa berbagi, saling membantu, dan bergotong royong, saya yakin Blahbatuh akan menjadi desa yang semakin maju, harmonis, sejahtera, dan budayanya tetap lestari,” pungkas Dwiantara.
(Tim)