GIANYAR | Sarinbiu.COM – Ketika malam datang dan jalan desa mulai gelap, persoalan lampu penerangan jalan umum (LPJU) bukan lagi sekadar soal lampu yang mati. Di baliknya ada rasa khawatir warga, ada kebutuhan akan keamanan, dan ada harapan agar pemerintah hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Di Desa Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, keluhan warga terkait lampu penerangan jalan yang mati akhirnya mendapat respons cepat.
I Made Dwiantara, S.AP., M.AP., calon Perbekel Desa Blahbatuh nomor urut 2, memilih tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Aspirasi masyarakat disampaikan kepada instansi terkait dan mendapat tindak lanjut dengan cepat.
Hasilnya, lampu penerangan jalan yang sebelumnya mati kini telah diperbaiki. Sejumlah titik jalan yang sebelumnya gelap kembali terang, sehingga masyarakat dapat melintas dengan lebih nyaman dan aman.
Dwiantara secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar, khususnya bidang sarana dan prasarana (sarpras) bagian LPJU, yang menurutnya telah menunjukkan respons cepat terhadap laporan masyarakat.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Dinas Perhubungan, khususnya bidang sarpras bagian LPJU, yang sudah dengan cepat dan sigap memperbaiki lampu yang mati di Desa Blahbatuh. Begitu ada laporan dari masyarakat, langsung ditindaklanjuti dan diperbaiki. Sekarang lampu penerangan jalan di Desa Blahbatuh sudah terang benderang,” ujar Dwiantara.
Bukan Sekadar Lampu, Tapi Soal Rasa Aman
Bagi warga yang pulang larut malam, cahaya lampu jalan bukan sekadar penerangan. Ia menjadi teman di sepanjang perjalanan, memberi rasa aman ketika harus melintas di jalan desa yang sebelumnya gelap.
Menurut Dwiantara, lampu penerangan jalan memang terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut, keberadaan LPJU sangat berarti.
Jalan yang terang memberikan rasa aman bagi warga yang pulang bekerja, anak-anak muda yang beraktivitas, maupun masyarakat yang memiliki keperluan pada malam hari.
“Lampu jalan itu mungkin kelihatannya sederhana, tetapi manfaatnya sangat besar. Ketika jalan terang, masyarakat merasa lebih aman dan nyaman. Karena itu, setiap keluhan warga harus kita dengarkan dan kalau bisa kita bantu komunikasikan, tentu harus kita perjuangkan,” tegasnya.
Ketika Keluhan Warga Tak Lagi Berhenti di Ujung Jalan
Dwiantara mengatakan, dirinya ingin terus membangun komunikasi yang baik antara masyarakat dengan pemerintah. Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir ketika ada kegiatan seremonial, tetapi juga harus mampu mendengar persoalan warga dan membantu mencari jalan keluarnya.
“Masyarakat jangan takut menyampaikan keluhan. Apa yang menjadi kebutuhan dan persoalan di lingkungan harus disampaikan. Kita komunikasikan bersama dengan pihak yang memiliki kewenangan agar bisa segera mendapatkan solusi,” katanya.
Satu Lampu Menyala, Satu Rasa Aman Kembali Hadir
Perbaikan LPJU di Desa Blahbatuh menjadi contoh kecil bagaimana persoalan masyarakat dapat diselesaikan ketika ada komunikasi dan respons yang cepat.
Dwiantara pun mengapresiasi langkah Dinas Perhubungan Gianyar yang langsung turun menangani laporan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan lingkungan desa yang nyaman, aman, dan memiliki pelayanan publik yang semakin baik.
“Saya sangat mengapresiasi respons cepat dari dinas. Ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat menyampaikan aspirasi dan ditindaklanjuti dengan baik, persoalan bisa segera diselesaikan. Mudah-mudahan ke depan komunikasi dan pelayanan seperti ini terus ditingkatkan,” ungkapnya.
Bagi Dwiantara, perjuangan untuk masyarakat tidak harus selalu dimulai dari persoalan besar. Mendengarkan keluhan warga, membantu menyampaikan aspirasi, dan memastikan persoalan tersebut mendapat tindak lanjut juga merupakan bentuk pengabdian.
Kini, ketika malam menyelimuti Blahbatuh, jalan-jalan yang sebelumnya sempat gelap kembali diterangi cahaya LPJU.
Bagi warga, itu mungkin hanya sebuah lampu yang kembali menyala. Tetapi bagi Dwiantara, cahaya itu adalah simbol sederhana bahwa ketika masyarakat bersuara, harus ada yang mendengar, bergerak, dan memperjuangkannya. (Tim)