GIANYAR | Sarinbiu.com – Setiap langkah menuju pengabdian tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ada perjalanan panjang, ada pengalaman yang membentuk karakter, dan ada orang-orang terdekat yang menjadi sumber kekuatan ketika jalan yang ditempuh mulai terasa berat.
Hal itulah yang tergambar di balik keputusan I Made Dwiantara, S.AP., M.AP., untuk maju sebagai calon Perbekel Desa Blahbatuh.
Di tengah gagasan yang ia tawarkan mengenai masa depan desa, mulai dari penguatan generasi muda, UMKM, BUMDes, seni budaya hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia, Dwiantara tetap menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Ada sosok sang ibu, Ni Ketut Kompyang, yang selama ini menjadi sumber doa dan restu. Ada sang istri, Ni Wayan Marina, yang menjadi teman berbagi sekaligus pendamping dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dan ada tiga buah hati mereka, Ni Putu Adelia Kesuma Dewi, I Kadek Dita Pangestu, serta I Komang Agus Pradnyana, yang menjadi penyemangat sekaligus alasan bagi Dwiantara untuk terus memikirkan masa depan.
“Kalau ditanya siapa yang paling memberikan kekuatan, tentu keluarga. Ada ibu saya, istri saya dan anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang selalu memberikan semangat ketika saya sedang lelah,” ujar Dwiantara.
Doa Ibu, Kekuatan yang Tidak Pernah Terlihat tetapi Selalu Menyertai
Di balik keberanian seseorang mengambil keputusan besar dalam hidup, sering kali ada doa yang tidak terdengar oleh banyak orang.
Bagi Dwiantara, doa itu datang dari seorang ibu.
Ni Ketut Kompyang menjadi salah satu sosok yang terus memberikan dukungan moral dalam setiap langkah putranya. Bagi Dwiantara, restu seorang ibu bukan sekadar dukungan, melainkan energi batin yang membuatnya tetap teguh ketika menghadapi berbagai tantangan.
Ia menyadari bahwa perjalanan hidup yang membawanya hingga saat ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada pendidikan, pengalaman, kerja keras dan nilai-nilai kehidupan yang sejak kecil ditanamkan oleh keluarga.
Karena itu, ketika dirinya memutuskan maju dalam kontestasi Perbekel Desa Blahbatuh, doa dan restu keluarga menjadi modal yang jauh lebih berharga daripada sekadar dukungan politik.
“Restu dan doa ibu itu bagi saya sangat penting. Apa pun yang saya lakukan, keluarga adalah tempat saya kembali,” katanya.
Dwiantara juga memahami bahwa sebesar apa pun pencapaian seorang anak, tidak akan pernah benar-benar mampu membalas seluruh pengorbanan seorang ibu.
Yang bisa dilakukan, menurutnya, adalah menjalani kehidupan dengan baik, menjaga nama keluarga dan sebisa mungkin memberikan manfaat bagi masyarakat.
Istri, Sosok yang Tetap Berdiri di Samping Ketika Perjalanan Tidak Selalu Mudah
Jika ibu menjadi sumber doa, maka sang istri menjadi teman perjalanan.
Ni Wayan Marina menjadi sosok yang turut memahami setiap keputusan dan dinamika yang dihadapi Dwiantara dalam perjalanan pengabdiannya.
Menjadi seseorang yang aktif di tengah masyarakat tentu membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian. Ada agenda yang harus dijalani, persoalan yang perlu dipikirkan hingga keputusan-keputusan yang terkadang tidak sederhana.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran seorang istri bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai tempat bertukar pikiran dan menguatkan ketika semangat mulai turun.
“Terima kasih untuk istri saya. Karena tanpa dukungan dan pengertian dari istri, tentu perjalanan ini tidak akan mudah,” ungkapnya.
Bagi Dwiantara, rumah memiliki makna tersendiri.
Di luar rumah, ia berbicara mengenai pembangunan desa, program dan masa depan masyarakat. Namun ketika kembali ke rumah, ia hanyalah seorang suami dan ayah yang ingin menikmati waktu bersama keluarga.
Tidak ada jabatan. Tidak ada panggung. Tidak ada kontestasi.
Yang ada adalah ruang sederhana untuk berbagi cerita, melepas lelah dan kembali mendapatkan energi sebelum melanjutkan perjuangan.
Tiga Anak dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan
Di balik semangat Dwiantara berbicara mengenai pembangunan desa, ada tiga nama yang selalu mengingatkannya tentang alasan mengapa masa depan harus diperjuangkan.
Mereka adalah Ni Putu Adelia Kesuma Dewi, I Kadek Dita Pangestu dan I Komang Agus Pradnyana.
Bagi Dwiantara, anak-anak bukan sekadar penerus keluarga. Mereka adalah gambaran masa depan yang kelak akan menerima hasil dari keputusan dan kebijakan yang dibuat hari ini.
Karena itu, ketika berbicara mengenai Desa Blahbatuh, ia tidak ingin pembangunan hanya dimaknai sebagai pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan sejatinya adalah investasi terhadap manusia.
Anak-anak harus mendapatkan ruang untuk belajar. Generasi muda harus memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan. Mereka harus didorong untuk berani bermimpi dan memiliki masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
“Ketika kita bicara pembangunan, sebenarnya kita sedang berbicara tentang masa depan anak-anak kita. Desa harus memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu alasan Dwiantara menempatkan generasi muda sebagai salah satu perhatian dalam gagasan pembangunannya.
Ia tidak ingin anak muda hanya menjadi penonton. Mereka harus diberikan ruang untuk terlibat, berkarya dan menjadi bagian dari proses pembangunan desa.
Blahbatuh Harus Memberikan Ruang bagi Generasi Muda dan UMKM
Dwiantara melihat Desa Blahbatuh memiliki modal sosial dan potensi yang besar.
Sejarah, seni budaya, UMKM, aktivitas ekonomi masyarakat hingga kekuatan sumber daya manusia merupakan aset yang menurutnya harus dikelola secara lebih terarah.
Dengan jumlah pemilih yang disebut sekitar 8.400 orang, kelompok muda dinilai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan Desa Blahbatuh.
“Potensi anak muda di Blahbatuh luar biasa. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku pembangunan,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah desa tidak cukup hanya membuat program. Pemerintah juga harus hadir memberikan pendampingan.
Hal serupa berlaku bagi pelaku UMKM.
Banyak masyarakat memiliki produk, kreativitas dan semangat berusaha, namun masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari akses permodalan, pemasaran, fasilitas hingga pengembangan kapasitas.
Karena itu, Dwiantara mendorong adanya pemetaan potensi UMKM secara lebih jelas agar program desa benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia juga melihat BUMDes harus mampu menjadi bagian dari penggerak ekonomi desa, bukan sekadar menjalankan kegiatan administratif.
Dari Keluarga, Dwiantara Belajar Bahwa Perubahan Tidak Pernah Instan
Keluarga bagi Dwiantara bukan hanya tempat mendapatkan dukungan, tetapi juga tempat belajar mengenai arti perjuangan.
Dari keluarga, ia belajar bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir dalam semalam.
Ada proses panjang, ada kegagalan, ada kesabaran dan ada konsistensi yang harus dijaga.
Nilai tersebut pula yang ingin ia bawa ketika berbicara tentang pembangunan Desa Blahbatuh.
Menurutnya, masyarakat tidak membutuhkan sekadar janji. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bekerja, kesungguhan menjalankan program dan kemampuan menjaga konsistensi.
Karena itu, Dwiantara menggunakan ungkapan yang cukup kuat untuk menggambarkan semangat yang menurutnya harus dimiliki seorang pemimpin desa.
“Kalau mau membangun Blahbatuh, harus gila membangun. Gila mendidik, gila mengedukasi dan gila berproses. Artinya, harus punya semangat dan keberanian untuk bekerja sungguh-sungguh,” katanya.
Demokrasi Boleh Berbeda, Blahbatuh Harus Tetap Bersama
Memasuki kontestasi Perbekel Desa Blahbatuh, Dwiantara juga menyadari bahwa perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Namun, ia berharap perbedaan politik tidak berkembang menjadi perpecahan di tengah masyarakat.
Baginya, pemilihan Perbekel hanyalah sebuah proses demokrasi. Setelah proses itu selesai, seluruh masyarakat tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun desa.
“Harapan saya kepada generasi muda Blahbatuh, mari kita bergandengan tangan. Nomorduakan kepentingan pribadi dan utamakan Blahbatuh. Jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita terpecah,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat memilih pemimpin yang memiliki program realistis, memahami persoalan desa dan mampu membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
Sebab membangun desa, menurutnya, bukan pekerjaan seorang Perbekel seorang diri.
Pemerintah desa harus berjalan bersama masyarakat. Anak muda harus diberikan ruang. UMKM harus mendapatkan pendampingan. BUMDes perlu diperkuat. Seni dan budaya harus tetap hidup. Sementara seluruh elemen masyarakat harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil bagian.
Di Belakang Dwiantara, Ada Keluarga yang Menjadi Saksi
Di tengah hiruk-pikuk politik desa, ada sisi lain dari perjalanan Dwiantara yang mungkin tidak selalu terlihat.
Seorang ibu yang terus mendoakan.
Seorang istri yang memilih untuk tetap mendampingi.
Dan tiga anak yang menjadi alasan untuk terus melihat jauh ke depan.
Ketiganya menjadi bagian penting dari perjalanan Dwiantara menuju pengabdian di Desa Blahbatuh.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan, Dwiantara tidak ingin hanya berbicara mengenai dirinya sendiri.
Ia ingin berbicara tentang generasi yang akan datang.
“Pada akhirnya, apa yang kita kerjakan hari ini bukan hanya untuk kita. Ini untuk anak-anak kita, untuk generasi berikutnya dan untuk masa depan Blahbatuh,” tuturnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi garis besar cara pandangnya terhadap pembangunan desa.
Baginya, keberhasilan seorang pemimpin bukan semata-mata diukur dari berapa banyak program yang dilaksanakan selama masa jabatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di situlah keluarga menjadi cermin bagi Dwiantara.
Ia membangun hari ini karena memiliki anak yang akan hidup di masa depan. Ia memikirkan pendidikan karena tahu generasi muda membutuhkan bekal. Ia berbicara tentang ekonomi desa karena ingin masyarakat memiliki kesempatan untuk berkembang di tanah kelahirannya sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan menuju pengabdian itu bukan sekadar perjalanan seorang calon Perbekel.
Di belakangnya ada doa seorang ibu, keteguhan seorang istri dan harapan tiga buah hati.
Dan dari keluarga itulah Dwiantara membawa satu keyakinan: bahwa membangun desa membutuhkan kesabaran, keberanian dan kerja bersama.
“Kalau Blahbatuh maju, yang menikmati bukan hanya kita. Anak-anak kita dan generasi berikutnya yang akan merasakan hasilnya. Karena itu, mari kita bangun Blahbatuh bersama,” pungkas Dwiantara.
(Tim Newsyess)